Bankir versus Rentenir : Persamaan dan Perbedaannya

BANGSA kita ini memang tergolong bangsa lucu sekaligus rada-rada tolol. Sudah tahu basis sumber dayanya agraris, tapi yang dibangun properti, jasa keuangan, industri otomotif, industri pesawat terbang, dan sejenisnya. Maka, punahlah semua ketika dilanda badai krisis ekonomi. Skenario lucu berikutnya, para jawara negeri ini berkutat hendak membangkitkan perbankan, yang sebagi…an besar sudah mati suri. Menurut rekan saya yang kalau ngomong sinis, sepanjang sejarah republik ini, ia tidak pernah melihat ada bank. Sekadar gedung tinggi atau rumah toko (ruko) bertuliskan nama bank memang banyak, tapi bukan bank dalam arti suatu institusi keuangan yang menjadi darahnya ekonomi.

Fungsi bank yang mungkin bisa dirasakan masyarakat luas adalah sekadar tempat menitipkan uang, tempat antre mengambil uang pensiun, tempat menyimpan uang hasil KKN, atau buat mengirim duit ke kampung daripada repot menggunakan wesel. Fungsinya bagi pertumbuhan ekonomi bisa dibilang nol, bahkan minus. Apa yang ditumbuhkan dengan uang bank tadi kini menjadi sarang jin (gedung tinggi yang tak rampung, perumahan mewah yang sudah membelukar, atau pabrik setengah jadi). Jika dikatakan pemerintah (BI) mempunyai piutang kepada bank-bank yang bangkrut, itu lebih banyak berbau omong kosong.

Kata rekan saya lagi, membikin bank di Indonesia hanya sebuah lelucon. Sebab, basis sistem keuangan yang membudaya di masyarakat kita adalah rentenir dan pengijon. Dalam sejarah sistem rentenir tadi, tidak pernah ada heboh antara kreditur dan debitur, tidak pernah ada berita rentenir dilikuidasi, dan tidak pernah ada rentenir kabur ke luar negeri. Dengan basis rentenir tadi, ekonomi riil berputar terus, dengan prinsip win-win. Rentenirnya tetap hidup, sementara para debiturnya pun tetap bertahan. Rentenir tidak pernah meminta uang hangus karena hal itu akan menghanguskan dirinya sendiri. Mereka juga tidak pernah mengemplang BLBI karena seluruh likuiditas dipikul di atas pundaknya sendiri.

 Saya dan rekan saya tadi yakin bahwa jasa rentenir masih jauh lebih besar ketimbang bank. Kesimpulan sementara, secara riil, di Indonesia selama ini memang tidak atau belum ada bank. Itu berarti juga tidak ada bankir. Bankir sejati di Indonesia adalah para rentenir tadi, yang selama berabad-abad sudah mengasah kepandaian bagaimana menginvestasikan uangnya dengan aman. Kepiawaian mereka dalam menganalisis risiko, ketajaman mereka dalam mencium peluang bisnis, keuletan mereka dalam mengelola uang, dan sebagainya tidak akan tertandingi oleh bankir kantoran atau bankir karbitan. Jika hendak menumbuhkan sistem perbankan di Indonesia dengan akar yang kuat, mulailah dengan merekrut para rentenir tersebut.

Menurut pemahaman saya, jika rentenir diharamkan karena beternak uang, bank pun sama, bahkan beternaknya secara kolosal.

MARTONO MODJO

Depok

About roeyani
South Borneo, nice place to be here, virgin forest, friendly people, dayak community at Meratus mountain, swimming cows, cheap every thing, easy staying in local people's home, secure journey.... so come to my place.....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s